AIH, AIHHH, SYAPA DIA? (14/09/2007)
Malam
ini,
Saya
duduk bersimpuh
Meratapi
yang tidak bisa diratapi
Bersimpuh,
Lalu
bersila,
Ujung
ujungnya bersimpuh lagi
Malam
ini,
Saya
memujanya
Menghujaninya
dengan tangisan tak bersuara
Mencoba
mengutuk,
Tapi
tidak sepantasnya saya mengutuk
Berkomat
kamit dengan mata setengah tertutup
Malam
ini,
Dada
saya naik turun
Bergemuruh
melebihi geledek di musim kodok bernyanyi
Sakit
luar biasa,
Tapi
saya terbiasa dengan rasa sakit,
Sungguh
tidak rela dengan terbiasa
Malam
ini,
Saya
kembali berbicara padanya
Setelah
entah berapa lama saya lupa
Dia
yang menjadi pegangan hidup saya kali ini,
Nanti,
Dan
selamanya
Malam
ini,
Dia
tanda tanya saya,
Dia
jawaban saya,
Dia
pendengar terbaik saya,
Dia
sisa rasa bertahan saya,
Dia
jagoan saya
Dia,
Dia,
Dia,
Dan ternyata selalu saja
Dia,
Yang membuat seribu satu
bintang saya bersinar
Dari seribu satu bintang
yang ada.
February 8th, 2008 at 5:53 pm
adalah lampu jalan
yang terbakar
adalah kelakar
setelah sekian gelas bir
adalah bibir
bicara tanpa suara
adalah puisi cinta
di buku harian
adalah daftar angan
di saku celana
adalah samsara
harumnya enggan padam
adalah telepon genggam
bergetar di atas meja
adalah melankolia
berdenting denting pada piano
adalah busa cappuccino
di pucuk hidung
adalah telinga pada punggung
mencari cinta yang berdegup
adalah kecup
ketika hujan tak kunjung reda
adalah doa
supaya rindu terampuni
adalah kembang api
berpijar di televisi
adalah jendela berterali
sekejap berpendar
adalah kamar
yang seringkali hampa
adalah kota
yang kini lelah menyala
March 3rd, 2008 at 8:30 am
wuahh geng,
bagusss punya lo.
hehe,
bolehh, kapankapan tuker pikiran.
hehe,
ngomongngomong, punya makna nggakk?
i actually wrote my poetry above about the Almighty, definitely the number one, hehe
March 7th, 2008 at 11:35 pm
Ditepi mendung jiwa
Hadir sepi menyambut asa
Teringat akan masa
Dimana kita bercengkrama
Gundah menemani sore
Menatap kota yang asing
Asing…
Kurindukan damai
Alunan biola melantunkan nada
mengiringi tarian daun-daun
Tertiup hembusan angin
Musim gugur mengintip
Dibalik renungan hati
Seringkali ku tanya
Apakah kita menatap langit yang sama?
Apakah kau rasa apa yang kurasakan?
Kapan kita kan berkumpul bersama lagi?
Berbagi tawa dan tangis?
Seiring lampu jalan yang menyala
Kuingin lari
Ke saat dewasa adalah dusta
Kutahu semua telah berlalu
Tapi tak kuasa rindu bergaung
March 9th, 2008 at 9:23 am
aihh aihh wekkksss
rindu sama syapa?
sama guwhe sehh pasti udah pasti yahh,
sama syapa lagihhkahh gerangan?
HAHA
May 12th, 2008 at 11:59 am
eh gua baru tau ternyata beginian disini,,,,, hehehehe!!
guratan diksi yg menarik.. feel free to come to http://www.sadpoetsociety.blogspot.com
May 12th, 2008 at 12:05 pm
eh gua baru tau ternyata ada beginian disini,,,,, hehehehe!!
guratan diksi yg menarik.. feel free to come to http://www.sadpoetsociety.blogspot.com